Rabu, 31 Oktober 2012

tulisan tentang ekonomi 10


Kriteria penerapan pembebanan biaya berdasar aktivitas (Activity Based Costing) dalam perusahaan
  • Product diversity
menunjukkan jumlah dan keanekaragaman product families yang ditawarkan. dalam hal ini semakin banyak produk yang dihasilkan, maka semakin cocok menggunakan analisis ABC(activities based costing). hal ini dikarenakan jika semakin banyak beragam produk yang dihasilkan akan berakibat semakin beragam pula aktivitasnya sehingga semakin tinggi pula tingkat distorsi cost.
  • Support diversity
menunjukkan jumlah dan keanekaragaman aktivitas yang mengakibatkan tingginya pengeluaran overhead cost. hal tersebut menyebabkan kesulitan dalam pengalokasian biaya overhead. jadi, semakin banyak jumlah dan keanekaragaman aktivitas maka semakin cocok menggunakan analisis ABC (activities based costing).
  • Common processes
menunjukkan tinggi rendahnya tingkat kegiatan yang dilakukan secara bersama untuk menghasilkan produk-produk tertentu sehingga biaya periode masing-masing produk sulit dipisahkan. Kegiatan bersama tersebut misalnya kegiatan manufacturing, engineering, marketing, distribution, accounting, material handling dan sebagainya. banyaknya departemen yang diperlukandalam menjalankan operasi perusahaan akan menyebabkan banyaknya common cost. hal itu berdampak pada sulitnya alokasi cost per produk. jadi, semakin tinggi tingkat common processes maka semakin cocok menggunakan analisis ABC(activities based costing).
  • Period cost allocation
menunjukkan kemampuan sistem akuntansi biaya yang ada mengalokasikan biaya periode secara akurat. biaya periode merupakan biaya uang diidentifikasi dengan interval waktu tertentu karena tidak diperlukan untuk memperoleh barang atau produk yang akan dijual. untuk dapat memperkecil biaya produk maka lebih disarankan biaya agar biaya periode menjadi proporsi yang paling besar dalam produk. perusahaan yang telah menerapkan hal tersebut maka cocok untuk menggunakan analisis ABC (activities based costing)
  • Rate of growth of period costs
menunjukkan tingkat kecepatan pertumbuhan biaya periode sepanjang tahun. perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan period cost yang pesat akan akan sulit untuk mengalokasikan cost, dan sehingga tingkat kemungkinan untuk terjadinya distorsi biaya menjadi tinggi. maka perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan biaya periode yang pesat, cocok dalam penggunaan analisis ABC (activities based costing).
  • Pricing freedom
menunjukkan tingkat independensi perusahaan dalam menentukan harga sehingga menghasilkan product profitability. perusahaan yang memiliki ketidakbebasan dalam menentukan harga biasanya disebabkan adanya persaingan dengan kompetitor dalam pasar. persaingan tersebut berdampak pada penentuan cost yang tepat bagi perusahaan. maka perusahaan yang tidak memiliki tingkat independensi untuk menentukan harga maka perusahaan tersebut cocok dengan menggunakan analisis ABC(activities based costing).
  • Period expense ratio
menunjukkan kemungkinan terjadinya distorsi biaya produk secara material. ini berkaitan dengan seberapa tingkat pengaruh penurunan ataupun kenaikan biaya dengan proporsi laba. jika laba perusahaan tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan maka perusahaan cocok menggunakan analisis ABC (activities based costing)
  • Strategic considerations
menunjukkan seberapa penting informasi biaya dimanfaatkan dalam proses pengambilan keputusan manajemen. keputusan yang diambil oleh manajemen berkaitan dengan strategi yang diterapkan oleh perusahaan, tidak hanya terbatas pada strategi pemasaran. sehingga semakin penting informasi biaya dalam pengambilan keputusan maka perusahaan cocok menggunakan analisis ABC(activities based costing).
  • Cost reduction effort
menggambarkan seberapa penting akurasi pelaporan alokasi biaya periode untuk pengambilan keputusan internal manajemen. adanya keakuratan pelaporan alokasi biaya periode juga berkaitan dengan evaluasi bagi internal manajemen. pihak manajemen dapat menggunakan informasi yang disajikan dalam laporan tersebut untuk membuat kebijakan yang lebih tepat pada kemudian hari. jadi semakin tinggi tingkat kepentingan akurasi maka semakin cocok menggunakan analisis ABC(activities based costing).
  • Analysis of frequency
menunjukkan tinggi rendahnya kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan analisis biaya pada produk. banyak kegiatan berkaitan dengan frekuensi kebutuhan informasi biaya. semakin tinggi tingkat frekuensinya maka tingkat keakuratan alokasi biaya pun juga semakin dibutuhkan. maka semakin tinggi tingkat frekuensinya, perusahaan semakin cocok menggunakan analisis ABC(activities based costing).
Nama : adisti pamula siwi
Kelas 3 eb 20
Npm :20210173

Tulisan tentang ekonomi 9


PENINGKATAN SISTEM TEKNOLOGI INFORMASI DAN JARINGAN

Ketika komputer dan komponen teknologi informasi digabungkan pada Sistem Informasi Akuntansi, tidak ada aktivitas utama yang ditambahkan atau dihapus. Sistem Informasi Akuntansi tetap mengumpulkan, mengolah, dan menyimpan data. Hal tersebut menghasilkan laporan dan informasi lain.

Sistem Informasi Akuntansi menggabungkan pengawasan penghitungan data dari awal sampai akhir. Bagaimanapun, system komputerisasi system informasi akuntansi sering mengubah karakteristik dari aktivitas. Data sebaiknya dikumpulkan dengan menggunakan alat pengukur yang spesial, terkadang pencatatan akuntansi dilakukan oleh karyawan.

Dalam beberapa hal, terkadang dokumen sumber sering hilang. Kebanyakan, tetapi tidak semua, tahap pemrosesan data terjadi secara otomatis. Ouput yang dihasilkan bersih dan sederhana, yang terdiri dari berbagai variasi. Disamping itu, output dapat didistribusikan pada pelanggan lain dengan menghubungi jaringan local yang telah terkoneksi dengan mikrokomputer.
Peningkatan dalam pengolahan data adalah penting untuk mengimplementasikan penyediaan teknologi computer :
  1. Pemrosesan transaksi dan data lain yang lebih cepat.
  2. Keakuratan perhitungan dan perbandingan data yang lebih baik.
  3. Biaya pemrosesan yang lebih murah untuk semua transaksi.
  4. Lebih banyak waktu untuk mempersiapkan laporan dan data lain.
  5. Lebih banyak tempat penyimpanan data yang singkat, dengan akses yang lebih baik ketika diperlukan.
Saat ini, banyak transaksi bisnis yang ditransmisikan melalui berbagai jenis jaringan berjauhan elektronik. Jaringan tersebut bisa berupa jaringan kecil yang melibatkan hanya beberapa computer dalam satu lingkup bisnis tertentu, atau jaringan sangat besar yang mencakup seluruh bumi. Apa pun, jaringan elektronik adalah sekelompok computer yang dikoneksikan secara elektronik. Koneksi tersebut memungkinkan perusahaan untuk secara nyaman merangkai data transaksi dan mendistribusikan informasi ke berbagai lokasi yang secara fisik

Jaringan ada kalanya diklasifikasikan sesuai dengan cakupan rentang jaringan tersebut. Local Area Netwok (LAN) adalah jaringan yang pada suatu alokasi tertentu, seperti dalam suatu gedung atau sekelompok gedung yang letaknya berdekatan satu dengan yang lain. Metropolitan Area Network (MAN) adalah jaringan yang ada dalam satu kota tertentu atau area metropolitan. Wide Area Network (WAN) adalah jaringan computer yang menackup minimal dua area metropolitan.

Dari sudut pandang partikal, perbedaan utama antara ketiga jaringan tersebut adalah tingkat arus data yang mengalir dalam jaringan tersbut. Terkait dengan teknologi perangkat keras, arus data akan lebih cepat mengalir melalui Local Area Network dan akan paling lambat melalui Wide Area Network. Namun dari sudut pandang pemrosesan transaksi akuntansi, perbedaan arus data tidak terlalu penting.

Pada masa lalu, setiap jenis jaringan memiliki jenis perangkat keras tertentu dan standar perangkat lunak tertentu pula. Dalam ptaktikanya, setiap vendor komputer menyediakan standar yang berbeda-beda. Akibatnya, pada masa tersebut, perusahaan lebih memilih untuk berkomunikasi dengan perusahaan lain menggunakan surat dan bukannya kompter. Tetapi internet telah memungkinkan adanya standar komunikasi universal atas semua jarinagn, dan teknologi yang ada saat ini memungkinkan setiap jenis computer di setiap jenis jarinagn untuk saling bertukar informasi dengan computer lain di seluruh dunia, dengan sangat mudah dan nyaman.

Internet merupakan jalur eleltronik yang terdiri dari berbagai standard dan protocol yang memungkinkan computer di lokasi mana pun untuk saling berkomunikasi. Salah satu cara terbaik untuk menjelaskan internet adalah menjelaskan sejarah internet itu sendiri. Versi awal praktis internet diciptakan pada era perang dingin, pada saat pemerintrah Amerika mencari alat untuk dapat menjaga komunikasi militer pada masa perang nuklir.

Berbagai protocol danm teknologi yang terkait dengan internet telah sangat popular sehingga banyak perusahaan mengadopsi protocol dan teknologi tersebut dengan sarana komunikasi internal di dalam LAN perusahaan. Fenomena ini melahirkan internet in-house, yang dikenal dengan nama intranet.

Bagi mereka yang ada di dalam perusahaan, intranet akan tampak sebagai bagian dari internet . Dalam arti, karyawan suatu organisasi dapat mengakses repository informasi perusahaan dengan cara yang sama yang mereka gunakan untuk mengakses informasi local manapun di internet. Satu-satunya perbedaan adalah seluruh intranet tidak dapat dilihat atau tidak tersedia bagi pihak yang berada di luar perusahaan. Atau alternative lain, sebagian atau seluruh bagian dari intranet bisa juga tersedia bagi pihak di luar perusahaan, setelah intranet tersebut didaftarkan.Salah satu variasi dari intranet adalah ekstranet. Ekstranet adalah intarnet dari dua atau lebih perusahaan dihubungkan menjadi satu. Ekstranet biasa mengubungkan intranet perusahaan dengan intranet pemasok atau intranet pelanggan perusahaan tersebut.
Nama : adisti Pamula siwi
Kelas :3 eb 20
Npm : 20210173

Tulisan tentang ekonomi 8

MSDM (Manajemen Sumber Daya Manusia)
SDM untuk SDM
Dalam melakukan SDM untuk SDM, ada tiga hal terpisah yang masih berhubungan dalam pekerjaan yang harus di pahami yaitu:
  1. Strategic SDM
  2. Strategi SDM, dan
  3. Organisasi SDM.
Strategic SDM adalah proses dari hubungan praktek SDM pada strategi bisnis. Manajer lini menjalankan fungsi SDM dan strategic SDM. Strategic SDM menciptakan sebuah proses untuk berpindah dari strategi bisnis ke kemampuan berorganisasi pada praktek SDM.
Strategi SDM berbicara tentang membangun sebuah agenda pada fungsi SDM. Strategi SDM membuat sebuah tujuan dan fokus pada fungsi SDM.
Organisasi SDM adalah proses menegenal dan mengembangkan sebuah fungsi SDM untuk menyampaikan servis SDM. Organisasi SDM adalah penerapan yang dilaksanakan oleh eksekutif SDM pada Profesional SDM.

STRATEGIC SDM : PENYUSUNAN STRATEGI BISNIS PADA PRIORITAS SDM
Manajer perusahaan menggunakan strategi utama dalam melakukan strategic SDM, penyusunan strategi bisnis dalam menjalankan hasil SDM. Perumusan strategi menyajikan tiga tujuan. Yaitu :
  1. strategi membicarakan sebuah petunjuk masa depan untuk bisnis atau kata lain sebuah visi, maksud, tujuan, misi atau tinjauan masa depan.
  2. perumusan masalah mengalokasikan sumberdaya. Perusahaan mempunyai sumberdaya, dimana berfokus pada bermacam-macam tujuan. Sejak beberapa perusahaan mempunyai sumberdaya yang cukup untuk bekerja pada stakeholder, dimana pengalokasian sumberdaya harus dibuat.
  3. perumusan strategi menjelaskan janji yang memrefleksikan komitmen yang dibuat dalam diskusi perumusan strategi.
Proses perumusan strategi, eksekutif mengembangkan visi masa depan, mengalokasikan sumberdaya untuk merealisasikan visi, dan berjanji pada stakeholder untuk mencapai tujuannya.
Mengulangi perumusan tanpa mengimplementasikan probabilitas menjadi salah satu tujuan utama dari tugas strategic SDM. Strategic SDM sering dihubungkan dengan strategi bisnis pada tindakan SDM dengan menggambarkan kemampuan untuk mengkritik yang dibutuhkan pada suatu perusahaan untuk menjadi sukses.

STRATEGI SDM: PEMBENTUKAN FUNGSI SDM
Ketika strategi SDM memastikan bahwa sebuah perusahaan mempunyai sumberdaya yang penting untuk menyelesaikan tujuan bisnis perusahaan, strategi SDM menggambarkan penciptaan nilai oleh fungsi SDM.
Langkah 1: menggambarkan suatu arsitektur organisasional
  1. Shared Mindset: tingkat untuk Fungsi sumber daya manusia memiliki suatu mindset bersama atau identitas umum
  2. Competence : tingkat untuk Fungsi sumber daya manusia yang diorganisir oleh individu yang mempunyai pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan sekarang dan yang akan datang.
  3. Consequence : tingkat yang mana sistem manajemen untuk dicapai yang digunakan oleh sumber daya manusia Para profesional memusatkan pada hasil dan perilaku.
  4. Governance : tingkat yang mana Fungsi sumber daya manusia mempunyai hubungan efektif, komunikasi, pengambilan keputusan, dan kebijakan.
  5. Work process / Capacity for change : tingkat untuk mana Fungsi sumber daya manusia dalam latihan dan penyesuaian dan pemahaman dan peningkatan proses.
  6. Leadership : tingkat untuk kepemimpinan yang efektif yang menyebar keseluruh bagian Fungsi sumber daya manusia.
Langkah 2: menciptakan suatu proses penilaian
Hasil diagnosa Suatu sumber daya manusia menyarankan audit atau penilaian untuk mengidentifikasi dari sumber daya manusia Organisasi.
Langkah 3: menyediakan sumber daya manusia Organisasi
Fungsi sumber daya manusia berlaku bagi kepada dirinya sendiri model praktek Sumber daya manusia. Ketika ini terjadi, praktek ini menjadi bangunan blok menyangkut Sumber daya manusia organisasi.
Langkah 4: prioritas yang di-set
Langkah 4 hasil diagnosa organisasional menentukan prioritas perhatian dari Sumber daya manusia pada beberapa isu kritis. Fungsi dapat menetapkan prioritas untuk mengembangkan praktek Sumber daya manusia. Praktek ini membangun infrastruktur dari Fungsi sumber daya manusia efektif dan implementastion Sumber daya manusia strategis.
REFERENSI :
Nama :adisti pamula siwi
Kelas : 3 eb 20
NPM : 20210173

Tulisan tentang ekonomi 7


Pemahaman Mendasar Bisnis & Industri Musik
Sebelum ada industri musik awalnya terjadi bisnis musik. Bisnis musik itu elemen mendasarnya antara lain terdiri dari rasa, ekspresi dan batas yang kemudian dirancang sedemikian rupa hingga memiliki nilai ekonomi. Saya pernah punya presentasi tentang musik yang mulai di dengar satu hingga sepuluh orang karena musik memiliki batas loudness dan decibel yang kemudian dibantu teknologi. Teknologi amplify membantu mengeraskan suara, teknologi rekaman mampu merekam suara, teknologi transmiting memancarkan suara. Namun tetap saja sumber ekspresinya satu, artisnya. Kemudian musik di dengar dan diapresiasi orang banyak dan ternyata mendatangkan keuntungan-keuntungan ekonomi bagi penyelenggaranya. Otomatis pembuat musiknya harus mendapat bagian juga. Itulah asal muasalnya hak cipta.
Performing rights muncul ketika artis bernyanyi di depan orang banyak dan orang itu senang dan terhibur tapi ketika di dengar dua ribu orang dan butuh gedung lalu terjadi penjualan tiket. Berarti ada uang masuk dan harus dibagi dengan artis sebagai penyedia content musiknya. Disitulah mulai terjadi pembagian royalti. Sama halnya dengan teknologi radio. Bayangkan kalau sinyal radio hanya kosong saja tanpa ada content musiknya maka radio itu tak akan di dengar orang.
Ketika ada content musik dan orang mulai mendengar kemudian disisipkanlah iklan. Iklan menghasilkan uang akhirnya radio yang menggunakan musik harus membagi keuntungan yang di dapat dari iklan dengan membayar royalti performing rights bagi artis-artis dan para pencipta lagunya. Berikutnya musik juga dapat direkam dan digandakan, terciptalah kemudian mechanical rights. Kalau sudah memahami filosofi tersebut akah mudah mengikuti perkembangan industrinya. Ketika jaman berubah dan musik tidak lagi direkam melalui studio atau diekspresikan di sebuah gedung, muncullah musik di internet atau di ponsel.
Industri selalu berubah terus karena perkembangan jaman sekaligus ada teknologi, norma baru, trend baru, semuanya mempengaruhi. Bahkan hukum pun mengikuti itu. Sebelum disebut industri musik awalnya bisnis musik dulu. Pemisahannya baru makin jelas ketika industri masuk ke dalam kehidupan manusia sehari-hari, termasuk ketika musisi bermain musik. Kemudian dipilah. Mulai dari industri peralatan musik walau pun belum memiliki teknologi yang canggih. Misalnya biola, gitar, itu nggak bisa lepas dari industri karena meningkatnya permintaan untuk memainkan alat-alat musik seperti itu.  Sedangkan yang dinamakan industri musik yang kreatif akhirnya mendapat perlindungan Hak Kekayaan Intelektual [HKI] hingga manajerial artis tidak stabil seperti industri peralatan musik karena goncangannya banyak. Misalnya terjadi perbedaan kiblat, ingin mengikuti standar Eropa atau Amerika. Pada satu waktu Eropa berkiblat ke Amerika namun terkadang Amerika juga berkiblat ke Eropa. Belakangan muncul poros industri musik baru di Asia yaitu Jepang dengan musik-musik Jepang yang separuh industri dan separuh non-industrial.


Muncul lagi industri dari benua baru yaitu Australia yang mirip Eropa tapi prilakunya terpengaruh Amerika membuat industri berubah. Gabungan semuanya membuat industri berubah. Manajemen berubah, pelaku berubah. Sementara yang disebut sebagai industri musik di Indonesia selalu tanggung terus. Ketika dijajah Belanda industrinya belum 100% berbicara tentang sistem dan bisnis tapi hanya ditinggali ilmu bermain musik, selalu membahas teknis-teknis bermusik. Contohnya W.R. Supratman. Dia sebenarnya nggak bisa main musik, dia wartawan. Dia belajar main musik supaya Indonesia atau klubnya memiliki lagu sendiri. Sementara industri saat itu mengharuskan musisinya memiliki nama Belanda, itu ketentuan tidak tertulis. Akan mempercepat karir, itu makanya ada Rudolf di dalam nama W.R. Supratman.
Industri kita baru memulai menata walau belum rapi setelah Bob Geldof marah-marah karena Indonesia membajak dan mengekspor album amal Live Aid atau setelah dimulainya era kaset. Waktu era piringan hitam kita masih persis seperti Belanda. Ada Polygram, Polydor dan Philips. Di sini merek-merek itu juga ada, tapi bukan licensed. Seolah-olah seperti license. Lantas Bung Karno membangun Lokananta itu dulunya dibentuk persis seperti Hilversum di Belanda.
Waktu itu ada hubungannya dengan RRI karena sebelum menjadi kota industri media besar, Hilversum pertama kali adalah stasiun radio, Radio Hilversum. Letaknya bukan di Amsterdam. Dari sana industri musik di Indonesia mulai mengenal yang namanya royalti tapi persis konsep Belanda. Kalau dulu konser di depan orang-orang Belanda musisi kita hanya dibayar dengan pride. Gengsi karena ditonton orang Belanda. Itu terjadi juga di generasi berikutnya, ada musisi gedongan dan musisi pinggiran. Hampir sama di seluruh kota.
Di Surabaya dulu hampir semua musisi terkonsentrasi di RRI. Radio merupakan satu-satunya alat ekspresi yang massal dulu. Yang lain bermain di klub, terjadi pembayaran tapi tidak seperti musisi Belanda yang tampil di klub di Belanda sana. Feodalisme akhirnya membuahkan regenerasi sikap bermusik seperti itu. Sebelum dan nggak lama setelah Indonesia merdeka musik kita menjadi musik propaganda, musik yang melawan, theres no industry di sana.
Industrinya diciptakan untuk kebutuhan berperang.
Setelah membaca tulisan-tulisan Remy Silado yang meneliti hal itu. Muncul kota-kota yang melahirkan artis-artis musik pop kontemporer seperti Jakarta, Bandung, Surabaya. Di Surabaya ada era W.R. Supratman, Bubi Chen, Gombloh, Dewa19 hingga Padi. Scene musik yang terbentuk di sana dianggap mewakili Indonesia Timur. Sementara musisi lain yang memainkan musik Hawaiian dari Ambon nggak mau ke Jakarta tapi tujuan utamanya Surabaya. Sampai generasi Franky Sahilatua dan musisi-musisi jazz juga tinggal di sana.
Kelompok orang Manado yang musikal juga muncul dari Surabaya seperti Jopie Item yang lebih dulu dikenal di sana bukan di Jakarta. Kalau melebar sedikit paling ke Malang yang pengaruh Eropa-nya terasa sekali, mirip seperti Bandung. Sementara itu bertumbuh terus Jakarta mulai terpengaruh Amerika Serikat tahun 1960an-1970an.  Saat itu di Indonesia grup-grup seperti Koes Plus, Bimbo, DLloyd dibayar dengan mobil atau rumah sebagai bonus dari produser sewaktu mereka masuk ke industri rekaman. Di luar negeri nggak ada praktik seperti itu. Kompensasinya selalu terukur. Misalnya album laku sekian dan menguntungkan perusahaan sekian akan diberikan royalti. Terserah artisnya nanti ingin dibelanjakan apa uang royaltinya. Singapura juga seperti itu. Hingga ada beberapa artis kita yang berangkat ke Singapura sempat terkaget-kaget dengan norma bisnis yang berlaku di sana.
Musisi-musisi yang pernah rekaman di Singapura seperti Rollies dan Bimbo akhirnya memiliki mindset yang berbeda. Mereka sempat merasakan hasil dari bermusik yang terukur sementara di Indonesia tidak seperti itu. Akhirnya dulu sangat sulit membuat lagu yang menghasilkan duit di sini. Mindset itu nggak ada, bahkan orangtua malah melarang anak-anaknya menjadi pemusik. Mindset peninggalan kolonial Belanda ini terus diwariskan ke generasi-generasi berikutnya. Sementara perkembangan teknologi informasi cepat sekali, ini menerobos ke bagian-bagian yang sudah berjarak dengan generasi dulu.
Perbedaan luar negeri dengan Indonesia setiap terjadi perubahan format rekaman di sana ada prosesnya, dari piringan hitam ke kaset ada prosesnya. Kepala orang diubah dulu. Prilaku distribusi, cara beli, pola konsumsi, dan sebagainya. Kalau di kita nggak, tiba-tiba saja berubah. Pelaku-pelaku besar bisnis piringan hitam yang tadi jumlahnya nggak banyak sekarang punya anak-anak yang bermain di bisnis kaset yang sebenarnya belum siap untuk mendistribusikan. Kelompok inilah yang belakangan menguasai industri musik kita sampai hari ini.
Industri kita justru salah mengartikan hak cipta karena konsep hak cipta memang berakar dari masyarakat industri. Kalau masyarakat kita masih canggung, ditengah-tengah. Setengah agraris, setengah maritim dan belum berpikir secara industri. Sehingga ukuran-ukuran yang dipakai dalam industrinya nggak bisa matched. Hak cipta adalah turunan dari revolusi industri. Generasi pertama dari hak cipta adalah lagu, sebelum akhirnya lagu dan musik sekarang dikenal sebagai content. Perlindungan terhadap para pencipta lagu sangat besar di Undang Undang Hak Cipta tapi pada praktiknya di Indonesia terbalik, pencipta lagu seperti tidak punya hak. Ini berlawanan sekali dengan UU Hak Cipta tentunya.  Di seluruh dunia tak ada pencipta lagu yang datang ke rumah produsernya kecuali untuk hubungan pribadi, itu berbeda. Ada mediator bernama publisher yang bertugas sebagai manajer lagu. Di Indonesia publisher muncul belakangan setelah industrinya berjalan dan anehnya standar yang dipakai tidak sama dengan luar negeri. Akhirnya setelah punya hanya sekadar ada saja, tidak menjalankan fungsi sebagai publisher. Malah kadang menjadi kepanjangan tangan dari kepentingan produsen musik atau label rekamannya.
Di Indonesia kebanyakan label memiliki publishing. Akhirnya makin kisruh. Seharusnya publisher adalah institusi yang melindungi lagu dan pencipta lagu supaya mereka nggak kering kreatifitas, mendapat pemasukan, dipasarkan dan dilindungi secara hukum. Itu tidak terjadi di sini, tetap saja publisher yang ada pasif, hanya menunggu. Jika lagunya sudah jadi dan orangnya datang baru ditawarkan bergabung ke publisher. Bukan menjemput bola dan membawa ke label rekaman. Itu salah satu contoh perangkat industri kita yang tidak memiliki standar sama dengan dunia luar.
Industri yang makin amburadul seperti ini harus dipahami anak-anak baru yang akan terjun ke industri dengan tujuan bukan membuat mereka takut, jangan dikasih gambaran menakutkan. Pada prinsipnya musik memiliki kekuatan, it has power. Sekali kamu terjun ke industri jadilah musisi yang memahami seluk beluk industrinya, nggak salah kok, nggak haram. Jangan setengah-setengah. Ingin terjun ke industri tapi marah-marah atau sebaliknya. Lebih baik masuk ke industri musik sembari melihat apa yang terjadi di sekelilingnya. Tidak semuanya kacau.
Referensi :
Nama : Adisti Pamula Siwi
Kelas : 3 eb 20
NPM : 20210173